8 Mar
Memasuki tahun 2008, tahu dan tempe tak lagi dipandang sebagai makanan murah karena harga kedelai yang menjadi bahan bakunya naik hingga dua kali lipat. ribuan pengusaha kecil pembuat tahu dan tempe menjerit. rakyat juga berteriak karena semakin sulit mendapatkan makanan pemasok protein yang murah.
kok bisa?? pemicunya tak lain adalah harga kedelai di pasar internasional yang melambung akibat produksinya melemah. indonesia yang hampir separuh kebutuhan kedelainnya dipenuhi lewat impor langsung terpukul. menurut badan pusat statistik,kebutuhan kedelai nasional mencapai 1,3 juta ton setahun. padahal tahun ini indonesia cuma bisa memproduksi 620 ribu ton. sisanya diimpor.
selama ini para petani ogah menanam kedelai karena margin keuntungannya kelewat kecil. mereka hanya bisa menjual Rp.3.000 per kg. padahal jika mereka menanam padi atau jagung, labanya bisa jauh lebih besar. jadi jangan heran bila produksi kedelai dari tahun ke tahun selalu menurun.
mungkin sudah selayaknya pemerintah menyokong peningkatan jumlah produksi kedelai. pemberian subsidi lewat penyebaran benih unggul yang merata ke seluruh daerah bisa jadi salah satu solusi jangka panjang. masa negara kita yang tanahnya subur dan sumber airnya melimpah, malah harus terus-menerus tergantung kepada negara lain untuk mencukupi kebutuhan kedelai? meski menyukai tempe, kita jangan mau dong menjadi “bangsa tempe.”
dikutip dari Reader’s Digest Indonesia.
2 Responses for "Jangan Jadi Bangsa Tempe"
tapi boleh donk tetep makan tempe…
mudah2an aja pemerintah makin sadar dengan kebutuhan rakyatnya…
josephine’s last blog post..weekend di puncak^^
Josephine : BOLEH banget hehehe *selaku penghoby makan tempe
iya moga pemerintah kita ga cuma ribut cari jabatan n kekayaan pribadi or golongan. amien
Leave a reply