11 Jan
Artalyta Suryani, terpidana kasus suap Rp.6 miliar terhadap Jaksa Urip Tri Gunawan yang kini meringkuk di Rumah Tahanan Pondok Bambu, Jakarta Timur, setelah MA menjatuhkan keputusan kasasi lima tahun penjara dan denda Rp.250 juta, pada 24 Februari 2009.
Tetapi jangan mengira Ayin (panggilan Artalyta) menghuni sebuah sel yang menyeramkan sebagaimana kesan sebuah penjara. Bagi Ayin tinggal di ruang tahanan tidak ada bedanya dengan tinggal di “alam bebas” sesuai “kelas” dia.
Hasil inspeksi mendadak yang dilakukan tiga anggota Satuan Tugas Pemberantas Mafia Hukum, yaitu Denny Indrayana, Mas Achmad Santosa, dan Yunus Husein. Menemukan berbagai fasilitas dan kenyamanan sekelas hotel berbintang tersedia bagi Ayin di ruang tahanannya itu.
Sidak dilakukan Minggu (10/1) malam, tepat pukul 19.30 WIB. Petugas rutan pun jadi kalang kabut mengetahui kedatangan tiga pejabat tersebut. “Aduh kok begini sih, ngga bilang-bilang.. Gimana sih ini,” teriak para petugas Rutan yang kebanyakan perempuan. Seorang petugas yang sempat menghalang-halangi rombongan wartawan pun sempat dibentak Denny, “Ini perintah Presiden. Kasih jalan”.
Seorang petugas bernama Anis yang menawarkan diri untuk mengantar para anggota Satgas pun ditolak mentah-mentah oleh Denny. Akhirnya para petugas Rutan pun hanya bisa pasrah membiarkan para anggota Satgas mengobrak-abrik “isi dapur” mereka.
Tempat pertama yang dikunjungi tim Satgas adalah ruang bimbingan kerja (bingker). Dari luar mereka mengawasi sosok Ayin tengah duduk berselonjor di sebuah sofa bed sambil menjalani perawatan kecantikan (beauty treatment) oleh seorang dokter ahli kosmetik laser Hadi Sugiarto.
Ruang yang seharusnya diperuntukkan bagi seluruh napi itu pun berubah menjadi ruang pribadi Ayin. Ruang dipenuhi oleh foto-foto anak yang diakui Ayin sebagai anak adopsinya. Disebuah sudut terdapat sebuah kolam bola berukuran besar, yang juga diakui Ayin sebagai tempat bermain anaknya jika mengunjunginya. Demikian juga di sebuah sudut ruangan dibangun kamar mandi khusus dengan shower dan perlengkapan seperti kamar mandi di sebuah hotel berbintang. Tidak hanya itu, sebuah pesawat televisi plasma, kulkas, kompor dan sejumlah alat-alat rumah tangga lainnya berada di ruangan itu.
“Sesuai aturan, seharusnya tidak boleh ada dokter lain yang boleh masuk, selain dokter penjara. Jadi ini tidak bisa dibenarkan,” Kata Mas Achmad mengomentari perlakuan istimewa yang diterima Ayin.
Kepada Mas Achmad, Ayin juga mengaku sering menggunakan ruang itu untuk mengadakan rapat-rapat dengan anak buahnya karena dia masih harus mengendalikan usaha plasmanya di Lampung, dan sejumlah perusahaan propertinya. “Saya minta ruang sedikit untuk menjalankan usaha saya,” katanya.
“Ini benar-benar mengagetkan. Nanti akan ada investigasi mendalam untuk memperjelas ini semua. Kita lihat saja,” Kata Mas Achmad dengan nada suara geram.
Kepala Rutan Sarju Wibowo yang baru tiba pada pukul 20.45 WIB hanya bisa lemas dan pasrah saat mengetahui tempat kerjanya berhasil “ditelanjangi” oleh Mas Achmad dan kawan-kawan. Tidak banyak kata yang bisa diucapkan, selain kata “siap”. “Siap pak…siap,” jawabnya atas apa pun pertanyaan anggota Satgas
One Response for "Ruang Tahanan Artalyta Suryani"
sekali lagi duit berbicara..
Leave a reply